Autisme pada Anak, Mengapa Bisa Terjadi?
KASUS penyakit autis saat ini semakin banyak terjadi di dunia, termasuk di Indonesia. Saat ini penyakit autis sudah dapat dideteksi sejak usia dini. Meski demikian, pengetahuan awam mengenai autis dan bagaimana menanganinya masih belum diketahui luas. Autisme adalah suatu gangguan yang ditandai oleh melemahnya kemampuan bersosialisasi, bertingkah laku, dan berbicara. Autisme sering disebut dengan Autistic Spectrum Disorder (ASD).
Untuk mengetahui apakah anak mengidap autis, maka penting untuk mengetahui mulai dari gejala, tindakan kuratif (penyembuhan) hingga tindakan preventif (pencegahan), serta makanan apa yang baik dan tidak baik dikonsumsi oleh penderita autisme. Sejalan dengan bulan "Autis Awareness", Sun Hope menggelar seminar kesehatan dengan mengambil tema "Autiskah Anakku?". Dalam seminar yang diselenggarakan di Kantor Pusat Sun Hope Indonesia ini, menghadirkan pembicara dr Irawan Mangunatmadja, Sp.A(K).
Dalam seminar yang baru diadakan belum lama ini, dr Irawan memberikan pemahaman kepada para peserta seminar lebih jauh mengenai penyakit autis. "Penyakit autis memiliki gejala-gejala yang kemudian dapat membantu diagnosis dokter yang dapat dilihat dari perilaku para penderitanya," paparnya. Menurut dr Irawan, anak autis memiliki gangguan komunikasi yang lemah. Artinya, tidak bisa berbicara atau memiliki keterlambatan bicara pada usia seharusnya. Kadang kesalahan yang terjadi diakibatkan kurang tahunya orangtua akan penyakit ini. Sehingga menganggap biasa anak yang telat bicara.
"Bila anak Anda mengalamai ciri tersebut, maka sebaiknya cepat konsultasikan pada dokter," sarannya.
Ciri lain yang dapat dilihat ialah anak memiliki gangguan interaksi sosial. Dengan kondisi demikian, anak sulit untuk diajak berkomunikasi. Tak hanya itu saja, lanjutnya, anak autis juga memiliki gangguan perilaku. "Ciri khas lainnya dari gejala autis ialah anak sering melakukan kegiatan yang berulang. Seperti mukul-mukul sendiri atau suka memutar diri sendiri yang dilakukan berulang kali," terangnya.
Mengenai cara penanganan penyandang autis, ahli gizi Sun Hope Indonesia, Fatimah Syarief, AMG, StiP menuturkan untuk memberikan nutrisi tepat. "Pada beberapa studi menunjukkan bahwa anak yang mengalami autisme ternyata juga alergi terhadap makanan tertentu. Penderita autis umumnya mengalami masalah pencernaan, terutama makanan yang mengandung casein (protein susu) dan gluten (protein tepung)," jelas Fatimah.
Karena kedua jenis protein tersebut sulit dicerna, maka akan menimbulkan gangguan fungsi otak apabila mengonsumsi kedua jenis protein ini. Sehingga perilaku penderita autis akan menjadi lebih hiperaktif. Menurutnya, suplemen yang baik diperlukan penderita autis yang biasanya mengalami lactose intolerance (ketidakmampuan pencernaan untuk mencerna laktosa). Salah satu suplemen yang baik diberikan bagi penderita autis adalah sinbiotik.
"Sinbiotik yaitu gabungan probiotik dan prebiotik. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang dimakan untuk memperbaiki secara menguntungkan keseimbangan mikroflora usus," kata dia. Anak autis, sambungnya, memerlukan vitamin C sebagai antioksidan. Adapun sumber terbaik yang dapat diberikan pada anak dengan kasus ini dapat berasal dari sayuran dan buah-buahan. Meski demikian, sebaiknya pilih sayuran dan buah-buahan yang tidak mengandung pengawet.
Ditambahkan Fatimah, beberapa spesies yang biasa digunakan antara lain mengandung Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus casei, Bifidobacterium bifidum, Bifidobacterium infantis, Bifidobacterium longum, dan Streptococcus lactis. Sementara itu, prebiotik adalah substansi makanan yang dapat meningkatkan beberapa bakteri usus yang menguntungkan bagi kesehatan.
Mengapa anak-anak autisme terasa jauh dan tidak responsif?
Mengapa mereka terlihat berada di dalam dunianya sendiri?
Suatu teori adalah adanya variasi selama perkembangan otak dalam anak-anak autistik terutama pada masalah integrasi sensorik. Otak tidak dapat mengartikan sejumlah sensasi penglihatan, suara, sentuhan, bau dan rasa. Otak menjadi kacau dan bingung. Otak mencoba melindungi dirinya sendiri dengan menghambat dan mengabaikan masukan sensorik yang datang. Hal ini menyebabkan anak seolah-olah berada jauh dan bertingkah laku tidak responsive.
Untuk menghambat lebih jauh terhadap serangan sensasi yang kacau, otak memfokuskan pada satu sensasi atau aktifitas. Hal ini mungkin berupa menggoyangkan tubuhnya dengan keras, bermain dengan mainan yang sama, atau melihat video yang sama berulang-ulang. Aktivitas ini kelihatan aneh, tidak pantas dan bersifat unik untuk masing-masing anak. Aktivitas ini diulang terus menerus, sehingga membuat tingkah lakunya menjadi aneh.
Aktivitas yang berulang-ulang lebih sering terjadi dan lebih jelas terjadi ketika mengalami pengalaman baru. Suara yang keras, orang asing yang belum dikenal atau tempat-tempat yang ramai kadang-kadang dapat mencetuskan hal ini. Aktivitas yang berulang-ulang adalah mekanisme pertahanan dan perlindungan pada anak autistik.
Source : http://rustinah.multiply.com
Selasa, 27 April 2010
Ini adalah Autisme
Autisme
Autisme diklasifikasikan sebagai ketidaknormalan perkembangan neuro yang menyebabkan interaksi sosial yang tidak normal, kemampuan komunikasi, pola kesukaan, dan pola sikap. Autisme bisa terdeteksi pada anak berumur paling sedikit 1 tahun. Autisme empat kali lebih banyak menyerang anak laki-laki dari pada anak perempuan.
Penyebab Autisme
Penyebab Autisme sampai sekarang belum dapat ditemukan dengan pasti. Banyak sekali pendapat yang bertentangan antara ahli yang satu dengan yang lainnya mengenai hal ini. Ada pendapat yang mengatakan bahwa terlalu banyak vaksin Hepatitis B yang termasuk dalam MMR (Mumps, Measles dan Rubella )bisa berakibat anak mengidap penyakit autisme. Hal ini dikarenakan vaksin ini mengandung zat pengawet Thimerosal, yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme Spectrum Disorder. Tapi hal ini masih diperdebatkan oleh para ahli. Hal ini berdebatkan karena tidak adanya bukti yang kuat bahwa imunisasi ini penyebab dari autisme, tetapi imunisasi ini diperkirakan ada hubungannya dengan Autisme.
Tanda - tanda Autisme
• Tidak bisa menguasai atau sangat lamban dalam penguasaan bahasa sehari-hari,
Hanya bisa mengulang-ulang beberapa kata,
• Mata yang tidak jernih atau tidak bersinar,
• Tidak suka atau tidak bisa atau atau tidak mau melihat mata orang lain,
• Hanya suka akan mainannya sendiri (kebanyakan hanya satu mainan itu saja yang dia mainkan),
• Serasa dia punya dunianya sendiri,
• Tidak suka berbicara dengan orang lain,
• Tidak suka atau tidak bisa menggoda orang lain.
Autisme diklasifikasikan sebagai ketidaknormalan perkembangan neuro yang menyebabkan interaksi sosial yang tidak normal, kemampuan komunikasi, pola kesukaan, dan pola sikap. Autisme bisa terdeteksi pada anak berumur paling sedikit 1 tahun. Autisme empat kali lebih banyak menyerang anak laki-laki dari pada anak perempuan.
Penyebab Autisme
Penyebab Autisme sampai sekarang belum dapat ditemukan dengan pasti. Banyak sekali pendapat yang bertentangan antara ahli yang satu dengan yang lainnya mengenai hal ini. Ada pendapat yang mengatakan bahwa terlalu banyak vaksin Hepatitis B yang termasuk dalam MMR (Mumps, Measles dan Rubella )bisa berakibat anak mengidap penyakit autisme. Hal ini dikarenakan vaksin ini mengandung zat pengawet Thimerosal, yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme Spectrum Disorder. Tapi hal ini masih diperdebatkan oleh para ahli. Hal ini berdebatkan karena tidak adanya bukti yang kuat bahwa imunisasi ini penyebab dari autisme, tetapi imunisasi ini diperkirakan ada hubungannya dengan Autisme.
Tanda - tanda Autisme
• Tidak bisa menguasai atau sangat lamban dalam penguasaan bahasa sehari-hari,
Hanya bisa mengulang-ulang beberapa kata,
• Mata yang tidak jernih atau tidak bersinar,
• Tidak suka atau tidak bisa atau atau tidak mau melihat mata orang lain,
• Hanya suka akan mainannya sendiri (kebanyakan hanya satu mainan itu saja yang dia mainkan),
• Serasa dia punya dunianya sendiri,
• Tidak suka berbicara dengan orang lain,
• Tidak suka atau tidak bisa menggoda orang lain.
AUTISME
AUTISME (bahan kuliah)
Posted on August 31, 2007 by klinis
DEFINISI DAN KARAKTERISTIK PERILAKU AUTISME
Kriteria Autisme berdasarkan DSM-IV:
A. Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2), dan (3), dengan minimal dua gejala dari (1) dan masing-masing satu gejala dari (2) dan (3).
(1) Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Minimal harus ada 2 gejala dari gejala di bawah:
a. tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai: kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-gerik yang kurang terarah,
b. tak bisa bermain dengan teman sebaya,
c. tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain,
d. kurangnya hubungan emosional dan sosial yang timbal balik.
(2) Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi seperti ditunjukkan oleh minimal satu dari gejala-gejala berikut:
a. bicara terlambat atau bahkan sama sekali tak berkembang (tak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara),
b. Bila bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk komunikasi,
c. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang,
d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang bisa meniru.
(3) Suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu dari gejala berikut ini:
a. Mempertahankan satu minat atau lebih, dengan cara yang khas dan berlebih-lebihan.
b. Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya.
c. Ada gerakan-garakan yang aneh, khas, dan diulang-ulang.
d. Seringkali terpukau pada bagian-bagian benda tertentu.
B. Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang: (1) interaksi sosial; (2) bicara dan berbahasa; (3) cara bermain yang kurang variatif.
C. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Kanak.
Karakteristik Perilaku Bermain pada Penyandang Autisme
•perilaku yang khas
•menjaga jarak dengan orang lain
•lebih sering sendiri atau paralel
•bermain lebih sedikit dibanding non autistik
•lebih sedikit menggunakan alat bermain dan kemampuan bermain sangat terbatas
•kesulitan dalam bermain pura-pura dan menirukan sesuatu yang dilakukan orang lain.
http://klinis.wordpress.com/2007/08/31/autisme-bahan-kuliah/
Posted on August 31, 2007 by klinis
DEFINISI DAN KARAKTERISTIK PERILAKU AUTISME
Kriteria Autisme berdasarkan DSM-IV:
A. Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2), dan (3), dengan minimal dua gejala dari (1) dan masing-masing satu gejala dari (2) dan (3).
(1) Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Minimal harus ada 2 gejala dari gejala di bawah:
a. tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai: kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-gerik yang kurang terarah,
b. tak bisa bermain dengan teman sebaya,
c. tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain,
d. kurangnya hubungan emosional dan sosial yang timbal balik.
(2) Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi seperti ditunjukkan oleh minimal satu dari gejala-gejala berikut:
a. bicara terlambat atau bahkan sama sekali tak berkembang (tak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara),
b. Bila bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk komunikasi,
c. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang,
d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang bisa meniru.
(3) Suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu dari gejala berikut ini:
a. Mempertahankan satu minat atau lebih, dengan cara yang khas dan berlebih-lebihan.
b. Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya.
c. Ada gerakan-garakan yang aneh, khas, dan diulang-ulang.
d. Seringkali terpukau pada bagian-bagian benda tertentu.
B. Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang: (1) interaksi sosial; (2) bicara dan berbahasa; (3) cara bermain yang kurang variatif.
C. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Kanak.
Karakteristik Perilaku Bermain pada Penyandang Autisme
•perilaku yang khas
•menjaga jarak dengan orang lain
•lebih sering sendiri atau paralel
•bermain lebih sedikit dibanding non autistik
•lebih sedikit menggunakan alat bermain dan kemampuan bermain sangat terbatas
•kesulitan dalam bermain pura-pura dan menirukan sesuatu yang dilakukan orang lain.
http://klinis.wordpress.com/2007/08/31/autisme-bahan-kuliah/
ATTENTION DEFICITS AND HYPERACTIVITY DISORDER (ADHD)
ATTENTION DEFICITS AND HYPERACTIVITY DISORDER (ADHD)
DEFINISI
kondisi neurologis yang menimbulkan masalah dalam pemusatan perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas, dimana tidak sejalan dengan perkembangan usia anak.
lebih kepada kegagalan perkembangan dalam fungsi sirkuit otak yang bekerja dalam menghambat monitoring dan kontrol diri, bukan semata-mata gangguan perhatian seperti asumsi selama ini.
2 kategori utama perilaku ADHD
kurangnya kemampuan memusatkan perhatian
hiperaktivitas-impulsivitas.
Manifestasi Perilaku
1. Kurangnya kemampuan memusatkan perhatian dapat muncul dalam perilaku:
a. Ketidakmampuan memperhatikan detil atau ceroboh
b. Kesulitan memelihara perhatian terhadap tugas atau aktivitas bermain
c. tidak perhatian saat bicara dengan orang lain
d. Tidak mengikuti perintah dan gagal menyelesaikan tugas
e. sulit mengorganisasikan tugas dan aktivitas
2. hiperaktivitas-impulsivitas sering muncul dalam perilaku:
a. gelisah /tidak tenang di tempat duduk
b. sering meninggalkan tempat duduk di kelas / situasi lain dimana seharusnya duduk tenang
c. berlari atau memanjat berlebihan, selalu terburu-buru atau bergerak terus seperti mesin
d. kesulitan bermain/terlibat dalam aktivitas yang menyenangkan
e. sering menjawab pertanyaan sebelum selesai. (Impulsivitas), berbicara terlalu banyak
f. sulit menunggu giliran (Impl) menyela atau memaksakan pendapat kepada orang lain (Imp)
Diagnosa menurut DSM-IV
A. (1) atau (2)
(1) memenuhi 6 atau lebih gejala kurangnya pemusatan perhatian paling tidak selama 6 bulan pada tingkat menganggu dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan;
(2) memenuhi 6 atau lebih gejala hiperaktivitas-impulsivitas paling tidak selama 6 bulan pada tingkat menganggu dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan
B. Gejala kurangnya pemusatan perhatian atau hiperaktivitas-impulsivitas muncul sebelum usia 7 tahun.
C. Gejala-gejala tsb muncul dalam 2 seting atau lebih (di sekolah, rumah, atau pekerjaan)¨C.Harus ada bukti secara klinis adanya gangguan dalam fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan.
D. Gejala tidak terjadi mengikuti gangguan perkembangan pervasive, skizofrenia, atau gangguan psikotik lainnya dan tidak dilihat bersama dengan gangguan mental lain (gangguan suasana hati, gangguan kecemasan, atau gangguan kepribadian).
Mengapa dia ADHD? (FAKTOR PENYEBAB)
aspek genetik atau biologis
kelahiran prematur, penggunaan alkohol dan tembakau pada ibu hamil, dan kerusakan otak selama kehamilan
zat aditif pada makanan, gula, ragi, atau metode pengasuhan anak yang kering
Tapi semua belum yakin…………………….
TRITMEN BAGI ANAK ADHD
belum ada obat yang dapat menyembuhkan ADHD
Tapi ada harapan….
Dengan terapi: farmasi, perilaku, dan metode multimodal.
Cara terbaik: kombinasi pengobatan farmasi dan terapi perilaku
http://klinis.wordpress.com/2007/08/31/autisme-bahan-kuliah/
DEFINISI
kondisi neurologis yang menimbulkan masalah dalam pemusatan perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas, dimana tidak sejalan dengan perkembangan usia anak.
lebih kepada kegagalan perkembangan dalam fungsi sirkuit otak yang bekerja dalam menghambat monitoring dan kontrol diri, bukan semata-mata gangguan perhatian seperti asumsi selama ini.
2 kategori utama perilaku ADHD
kurangnya kemampuan memusatkan perhatian
hiperaktivitas-impulsivitas.
Manifestasi Perilaku
1. Kurangnya kemampuan memusatkan perhatian dapat muncul dalam perilaku:
a. Ketidakmampuan memperhatikan detil atau ceroboh
b. Kesulitan memelihara perhatian terhadap tugas atau aktivitas bermain
c. tidak perhatian saat bicara dengan orang lain
d. Tidak mengikuti perintah dan gagal menyelesaikan tugas
e. sulit mengorganisasikan tugas dan aktivitas
2. hiperaktivitas-impulsivitas sering muncul dalam perilaku:
a. gelisah /tidak tenang di tempat duduk
b. sering meninggalkan tempat duduk di kelas / situasi lain dimana seharusnya duduk tenang
c. berlari atau memanjat berlebihan, selalu terburu-buru atau bergerak terus seperti mesin
d. kesulitan bermain/terlibat dalam aktivitas yang menyenangkan
e. sering menjawab pertanyaan sebelum selesai. (Impulsivitas), berbicara terlalu banyak
f. sulit menunggu giliran (Impl) menyela atau memaksakan pendapat kepada orang lain (Imp)
Diagnosa menurut DSM-IV
A. (1) atau (2)
(1) memenuhi 6 atau lebih gejala kurangnya pemusatan perhatian paling tidak selama 6 bulan pada tingkat menganggu dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan;
(2) memenuhi 6 atau lebih gejala hiperaktivitas-impulsivitas paling tidak selama 6 bulan pada tingkat menganggu dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan
B. Gejala kurangnya pemusatan perhatian atau hiperaktivitas-impulsivitas muncul sebelum usia 7 tahun.
C. Gejala-gejala tsb muncul dalam 2 seting atau lebih (di sekolah, rumah, atau pekerjaan)¨C.Harus ada bukti secara klinis adanya gangguan dalam fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan.
D. Gejala tidak terjadi mengikuti gangguan perkembangan pervasive, skizofrenia, atau gangguan psikotik lainnya dan tidak dilihat bersama dengan gangguan mental lain (gangguan suasana hati, gangguan kecemasan, atau gangguan kepribadian).
Mengapa dia ADHD? (FAKTOR PENYEBAB)
aspek genetik atau biologis
kelahiran prematur, penggunaan alkohol dan tembakau pada ibu hamil, dan kerusakan otak selama kehamilan
zat aditif pada makanan, gula, ragi, atau metode pengasuhan anak yang kering
Tapi semua belum yakin…………………….
TRITMEN BAGI ANAK ADHD
belum ada obat yang dapat menyembuhkan ADHD
Tapi ada harapan….
Dengan terapi: farmasi, perilaku, dan metode multimodal.
Cara terbaik: kombinasi pengobatan farmasi dan terapi perilaku
http://klinis.wordpress.com/2007/08/31/autisme-bahan-kuliah/
Apakah Autisme itu ?
Apakah Autisme itu ?
Autisme adalah : neurodevelopmental disorder that manifests itself in markedly abnormal social interaction, communication ability, patterns of interests, and patterns of behavior.
“Cacat pada perkembangan syaraf & psikis manusia, baik sejak janin dan seterusnya; yang menyebabkan kelemahan/perbedaan dalam berinteraksi sosial, kemampuan berkomunikasi, pola minat, dan tingkah laku”.
Autisme cukup luas dan mencakup cukup banyak hal. Ciri-ciri autisme ada banyak, dan kebanyakan penderita autisme hanya menderita sebagiannya saja.
Penderita autisme cukup banyak yang ternyata malah menjadi sukses dalam hidupnya. Penderita autis banyak yang menjadi pakar pada bidang sains, matematika, komputer, dan lain-lainnya.
Orang tua dapat sangat membantu mengarahkan anak autis untuk mengeksploitasi kelebihan-kelebihannya (seperti: kemampuan untuk fokus & konsentrasi yang luar biasa), dan melatih mereka untuk memperbaiki berbagai kelemahan-kelemahannya.
http://harry.sufehmi.com/archives/2006-10-17-1302/
Autisme adalah : neurodevelopmental disorder that manifests itself in markedly abnormal social interaction, communication ability, patterns of interests, and patterns of behavior.
“Cacat pada perkembangan syaraf & psikis manusia, baik sejak janin dan seterusnya; yang menyebabkan kelemahan/perbedaan dalam berinteraksi sosial, kemampuan berkomunikasi, pola minat, dan tingkah laku”.
Autisme cukup luas dan mencakup cukup banyak hal. Ciri-ciri autisme ada banyak, dan kebanyakan penderita autisme hanya menderita sebagiannya saja.
Penderita autisme cukup banyak yang ternyata malah menjadi sukses dalam hidupnya. Penderita autis banyak yang menjadi pakar pada bidang sains, matematika, komputer, dan lain-lainnya.
Orang tua dapat sangat membantu mengarahkan anak autis untuk mengeksploitasi kelebihan-kelebihannya (seperti: kemampuan untuk fokus & konsentrasi yang luar biasa), dan melatih mereka untuk memperbaiki berbagai kelemahan-kelemahannya.
http://harry.sufehmi.com/archives/2006-10-17-1302/
Apa itu Autisme
Apa itu Autisme
Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun.
Penyebab autisme adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.
Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal.
Disamping itu seringkali (prilaku stimulasi diri) seperti berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya.
Gejala autisme sangat bervariasi. Sebagian anak berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering tempertantrum (menangis dan mengamuk). Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas.
Selain berbeda dalam jenis gejalanya, intensitas gejala autisme juga berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat.
Oleh karena banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut di antara masing-masing individu, maka saat ini gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA).
Autisme dapat terjadi pada siapa saja, tanpa membedakan warna kulit, status sosial ekonomi maupun pendidikan seseorang. Tidak semua individu ASD/GSA memiliki IQ yang rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang tertentu (musik, matematika, menggambar).
Prevalensi autisme menigkat dengan sangat mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Menurut Autism Research Institute di San Diego, jumlah individu autistik pada tahun 1987 diperkirakan 1:5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan pada tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak. Di Indonesia belum ada data yang akurat oleh karena belum ada pusat registrasi untuk autisme. Namun diperkirakan angka di Indonesia pun mendekati angka di atas. Autisme lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, dengan perbandingan 4:1
http://www.autis.info/index.php/tentang-autisme/apa-itu-autisme
Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun.
Penyebab autisme adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.
Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal.
Disamping itu seringkali (prilaku stimulasi diri) seperti berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya.
Gejala autisme sangat bervariasi. Sebagian anak berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering tempertantrum (menangis dan mengamuk). Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas.
Selain berbeda dalam jenis gejalanya, intensitas gejala autisme juga berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat.
Oleh karena banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut di antara masing-masing individu, maka saat ini gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA).
Autisme dapat terjadi pada siapa saja, tanpa membedakan warna kulit, status sosial ekonomi maupun pendidikan seseorang. Tidak semua individu ASD/GSA memiliki IQ yang rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang tertentu (musik, matematika, menggambar).
Prevalensi autisme menigkat dengan sangat mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Menurut Autism Research Institute di San Diego, jumlah individu autistik pada tahun 1987 diperkirakan 1:5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan pada tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak. Di Indonesia belum ada data yang akurat oleh karena belum ada pusat registrasi untuk autisme. Namun diperkirakan angka di Indonesia pun mendekati angka di atas. Autisme lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, dengan perbandingan 4:1
http://www.autis.info/index.php/tentang-autisme/apa-itu-autisme
Verbatim Konseling
VERBATIM KONSELING
Nama : Inisial H M
Umur : 21 tahun
Pendidikan : SMU
Lokasi wawancara : Gazebo Kampus D Gunadarma
Konselor : Hai...apa kabar ?
Subjek : Alhamdulillah baik
Konselor : Kira-kira kamu sibuk apa ?
Subjek : Kuliah, mikirin banyak masalah dirumah, dikampus, biasa dengan teman, yaa gitu lah.
Konselor : Terus, perjalanan kamu hari ini ke kampus, lancar, macet atau gimana ?
Subjek : Ohh...lancar karena tadi lewat jalan tikus aja, gak tau tadi tikusnya nyelip-nyelip.
Konselor : Terus, kalau kabar keluarga gimana ?
Subjek : Nyokap (ibu) masih suka bawel.
Konselor : kalo bokap (ayah) ?
Subjek : sama ikutan bawel, kalo nyokap ikutan bawel, bokap ikutan.
Konselor : Punya adik atau kakak ?
Subjek : Adik 2, alhamdulillah gue anak pertama.
Konselor : Terus hubungan kamu sama keluarga kamu gimana?
Subjek : Gak tau yah, kalo dari segi orang tua, apa ada masalah atau enggak, gue gak tau, tapi kalo gue ke orang tua sih anggap ada masalah.
Konselor : Terus kamu dikeluarga itu lebih dekat kemananya ?
Subjek : Kalo dikeluarga lebih dekat kemana, mungkin ke ibu ya, atau mungkin juga bisa ke adik.
Konselor : Kenapa ?
Subjek : Soalnya kalau sudah dekat ibu atau dekat bapak, kalau gak kenal omelan, ceramah, kalo gak curhat panjang lebar yang udah diulang berkali-kali.
Konselor : Kira-kira kamu ada gak masalah yang mau diceritain ke kita ?
Subjek : Aduh...(menggaruk kepala) ada sih, tapi...yang mau ditanya masalah teman, keluarga atau apa nih ?
Konselor : Gini aja masalah yang paling membebani kamu saat ini ?
Subjek : Pokoknya simpel nya gue lagi ada masalah sama temen gue, gak tau tuh anak marah sama gue.
Konselor : Oh ya, kalo boleh tau kenapa ?
Subjek : Nah itu yang gak tau. Gue berusaha nyari jawabannya tapi gak ketemu. Minta tolong sama orang-orang juga, orangnya antara mau dan gak mau.
Konselor : Udah yakin kalo kamu sudah tepat meminta tolong pada orang tersebut ?
Subjek : Gue juga masih ragu sih, keliatannya orang yang gue minta tolongin ini, juga punya janji sama orang yang bermasalah sama gue. Disatu sisi ingin membantu gue, tapi disisi lain dia ngejaga rahasia yang berhasil dia dapat.
Konselor : Kenapa kamu yakin teman dia bisa menjaga rahasia sama kamu?
Subjek : bisa simpel aja sih, bisa keliatan kalo misalnya orang itu udah pernah cerita. Tapi orang yang gue mintain tolong ini,dia juga diem aja bilangnya belum tapi kayanya belum pernah cerita. Dan beberapa orang lain yang dimintain tolong ga mau ikut campur, meskipun gue tahu mereka(orang yang bermasalah sama gue).
Konselor : Kalo gue boleh tahu bisa berikan contohnya ga?
Subjek : Salah satu contohnya ya? Ya, simpel cih. Gue sama dia udah lama ga ngobrol, trus setiap kali gue berusaha ngobrol dia pasti jutek dan kabur.
Konselor : Kabur gimana maksudnya?
Subjek : ya gitu, dia langsung kabur malah kadang misalkan baru ketemu, dia udah langsung lari. Belum sempet nyapa belum apa-apa udah lari.
Konselor : Kalo boleh tahu kira-kira udah berapa lama masalahnya?
Subjek : Kira-kira mulai semester 4, tepatnya pertengahan semester 3 masalah itu muncul.
Konselor : Kira-kira awal masalahnya gimana?
Subjek : Ga jelas juga gimana masalah, dia tuh jadi aneh. Jadi dia tiba-tiba marah,tapi anehnya dia gue pikir karena bad mood aja ke semua orang tapi ternyata dia bad mood ke gue aja. Jadi gue ga tau bad moodnya kenapa, dan itu yang sampe sekarang gue cari tau.
Konselor : Apa kamu yakin dia bad mood sama kamu aja atau cuma perasaan kamu aja?
Subjek : Karena dari awal dia bad mood sama gue tadinya gue cuekin, jadi gue kira masalah itu sepele, tapi lama kelamaan kok bad moodnya dia makin bertambah, makin keliatan sebel makin keliatan benci ke gue.
Konselor : Oh jadi, e....dia itu bad mood karena tiba-tiba marah gak jelas semakin bertambah, makin keliatan sebel makin keliatan benci, gitu...?
Subjek : ya.....gitu
Konselor : Terus kira-kira ada ga faktor lingkungan yang membuat kamu tambah buruk atau malah sebaliknya lebih baik ?
Subjek : Kalo faktor lingkungan ya paling faktor sosial ya, kaya tadi saya bilang mereka temen-temen yang dimintai tolong kurang bisa membantu saya untuk mencari biang masalah kenapa bisa begitu.
Konselor : Tapi sekarang kan sudah berjalan lama ya...tu kira-kira ada ga sih misalkan udah membaiklah sedikit demi sedikit ?
Subjek : Kalo baik sih kayanya enggak, cuman paling dia itu udah kaya 100 persen cuek, meskipun mungkin gue enggak.
Konselor : Dia cuek begitu apa karena teman baik kamu banget, jadi saat punya masalah sama dia, sampe sekarang ?
Subjek : yaah...gue akuin dia temen baik gue, gue akuin daripada dia butuh gue, mendingan gue dibutuhkan oleh dia, dalam segala hal, bilang sulit untuk belajar.
Konselor : Terus apakah kamu yakin yang sudah kamu lakukan sekarang benar ?
Subjek : Gak yakin, karena saya butuh penjelasan dari si subjeknya ini untuk,apa...mengatakan atau seenggaknya memberi tanda gitu yang menandakan dia gak suka jadi gue bisa ngerubah itu.
Konselor : Kira-kira kalau kita membuat perbandingan 1 sampai 10, kira-kira masalah kamu ada di nilai berapa ?
Subjek : Tingkat keparahan, mungkin 9.
Konselor : Kalo misalkan 9 udah berat kan, kira-kira ada gak sih orang yang tau masalah ini ?
Subjek : Cukup banyak, kan tadi udah saya bilang, ada beberapa orang yang saya tolong, jadi otomatis orang itu udah tau dong masalah saya apa.
Konselor : Untuk lebih baik lagi kamu ngelakuin apa ?
Subjek : Sampe sekarang juga gua lagi nyari solusinya nih apa, soalnya nanya ke sana dia gak mau ikut campur, tanya ke orang lain mulutnya takut ember, jadi masih bingung solusi. Tapi untuk yang saya lakukan sekarang untuk memperbaiki keadaan mungkin cukup benar.
Konselor : Dengan keadaan kamu, kamu kecewa gak ?
Subjek : Yaa...jujur, jujur sejujurnya, kalo bohong itu dosa, saya kecewa, sama diri saya sendiri, kenapa dari setiap masalah yang saya hadapi Cuma bisa lari. Semua masalah yanng bisa diselesaikan Cuma lari, dan gua gak akan menyerah dengan masalah ini, dengan lari begitu aja.
Konselor : Berarti kamu dengan optimis menghadapinya ?
Subjek : Mungkin bisa dibilang cukup optimis. Tapi lama-lama udah mulai lelah, dicuekin, dijutekin udah kaya apaan tau, kalau diajak ngobrol gak mau liat ke arah gue.
Konselor : Ohh...begitu, kalau begitu boleh gak saya kasih saran, kalau menurut saya begini, kamu bilang kan tadi kamu kecewa sama diri kamu sendiri, karena kamu Cuma bisa lari dari masalah, menurut saya, lebih baik kamu mencoba untuk mencari cara gimana supaya masalah itu selesai, jangan untuk lari, dipending dulu, cari masalah yang menurut kamu lebih penting, gimana menurut anda ?
Subjek : Gimana yaa, kalo menurut saya, kalo yang penting udah pasti didaduhulukan, dan yaa memang benar kalau ada tugas kuliah saya mengerjakan, tapi pasti didalam tengah-tengah ngerjain tugas itu pasti ada bayangan tentang masalah gua sama dia.
Konselor : Terus sewaktu terbayang itu apa yang anda lakukan ?
Subjek : Paling Cuma melakukan represi.
Konselor : Represi gimana, apakah menekan ketika ini tiba-tiba muncul atau merepress untuk ke hal-hal yang lain ?
Subjek : Yaa menekan, supaya perasaan yang gak jelas ini hilang.
Konselor : Apa sih yang kamu inginkan sekarang, atas kejadian ini ?
Subjek : Yang saya inginkan saya sama dia kembali kaya dulu lagi. Meskipun kadang-kadang ngeselin, bukan dia nya yaa, tapi keadaan orang-orang sekitar.
Konselor : Andai kata dia menjalin kontak dengan kamu kembali, apakah kamu ingin menjalin kontak itu, sedangkan hati kamu seperti yang kamu bilang, kamu ingin merepress ?
Subjek : Tentu saja dia akan menerima dia apa adanya, karena saya ingin memperbaiki keadaan, kalau saya misalnya mensudahi, itu bisa saya lakukan dari sekarang. Tapi itu kan sama aja berlari.
Konselor : Kesan dan pesan kamu tentang masalah ini apa ?
Subjek : Gue gak bisa ngegambarin diri gue sendiri, gue ini lagi kenapa, yang jelas gue super pusing sama masalah ini, bingung juga, ngejelasinnya ribet, karena gue sendiri belum dapat bayangannya.
Konselor : Kira-kira ini hal yang negatif gak sih buat kamu ?
Subjek : Kalo soal negatif, setiap masalah pasti negatif yaa, dari segi mental udah pasti negatif banget yaa mau gimana lagi.
Konselor : Kamu menanggapi masalah ini dengan negatif thinking apa positif thinking ?
Subjek : Saya rasa keduanya, disatu sisi saya merasa gak puas dengan diri saya, disatu sisi saya kesal sama diri saya sendiri karena saya gak tau, apa yang membuat orang lain kesal sama saya, apa yang ngebikin saya sulit banget untuk menyelesaikan masalah, tapi disisi lain dari masalah ini, saya harus menyelesaikan masalah.
Konselor : Yang tadi saya tangkap, tadi kan kamu bilang merepress, apakah kamu benar merepress atau cuma mengalihkan yang tadi ?
Subjek : Kalo saya untuk saat ini, setiap masalah apapun yang saya hadapin, entah itu kecil entah itu besar, saya kurang bisa yang namanya displacement, mengalihkan, saya kurang bisa, karena rata-rata yang terjadi sama saya tuh cara temudahnya untuk mengalihkannya tuh destruktif, jadi biasa menghancurkan sesuatu, teriak, mukul-mukul kepala.
Konselor : Tapi gak jedotin kepala ketembok kan ?
Subjek : Kadang suka jedotin kepala.
Konselor : Jadi ketika ada masalah untuk mengalihkannya itu, kamu lebih ke arah destruktif dengan menyiksa diri kamu sendiri ?
Subjek : Iya begitu.
Konselor : Apakah itu kamu anggap sebagai punishment, apakah kamu merasa lebih baik, atau merasa lebih jatuh lagi ?
Subjek : Kalau menurut saya, itu bukan melakukan punishment itu hanya sekedar, diplacement doang, pelampiasan emosi utnuk mengurangi tingkat stress.
Konselor : Apakah itu alternatif yang terbaik untuk kamu ?
Subjek : Untuk saat ini saya asih gak bisa menemukan repressment yang lain lagi
Konselor : Jadi kamu kecewa atas sikap temen kamu yang seperti itu ?
Subjek : Iya...yaa...
Konselor : Oke mungkin ada lagi yang ingin sampaikan atau di curahkan lagi ?
Subjek : Apa yaa....tanpa pertanyaan menurut saya segitu aja.
Konselor : Oke kalau tidak ada lagi, mudah-mudahan aja apa yang kita lakukan sekarang bisa membuat kamu lebih baik dan bisa diterima dengan baik juga, dan saran-saran kita dapat dipakai juga tanpa adanya perlawanan, mudah-mudahan masalah kamu cepat selesai, sekian dari kami.
Nama : Inisial H M
Umur : 21 tahun
Pendidikan : SMU
Lokasi wawancara : Gazebo Kampus D Gunadarma
Konselor : Hai...apa kabar ?
Subjek : Alhamdulillah baik
Konselor : Kira-kira kamu sibuk apa ?
Subjek : Kuliah, mikirin banyak masalah dirumah, dikampus, biasa dengan teman, yaa gitu lah.
Konselor : Terus, perjalanan kamu hari ini ke kampus, lancar, macet atau gimana ?
Subjek : Ohh...lancar karena tadi lewat jalan tikus aja, gak tau tadi tikusnya nyelip-nyelip.
Konselor : Terus, kalau kabar keluarga gimana ?
Subjek : Nyokap (ibu) masih suka bawel.
Konselor : kalo bokap (ayah) ?
Subjek : sama ikutan bawel, kalo nyokap ikutan bawel, bokap ikutan.
Konselor : Punya adik atau kakak ?
Subjek : Adik 2, alhamdulillah gue anak pertama.
Konselor : Terus hubungan kamu sama keluarga kamu gimana?
Subjek : Gak tau yah, kalo dari segi orang tua, apa ada masalah atau enggak, gue gak tau, tapi kalo gue ke orang tua sih anggap ada masalah.
Konselor : Terus kamu dikeluarga itu lebih dekat kemananya ?
Subjek : Kalo dikeluarga lebih dekat kemana, mungkin ke ibu ya, atau mungkin juga bisa ke adik.
Konselor : Kenapa ?
Subjek : Soalnya kalau sudah dekat ibu atau dekat bapak, kalau gak kenal omelan, ceramah, kalo gak curhat panjang lebar yang udah diulang berkali-kali.
Konselor : Kira-kira kamu ada gak masalah yang mau diceritain ke kita ?
Subjek : Aduh...(menggaruk kepala) ada sih, tapi...yang mau ditanya masalah teman, keluarga atau apa nih ?
Konselor : Gini aja masalah yang paling membebani kamu saat ini ?
Subjek : Pokoknya simpel nya gue lagi ada masalah sama temen gue, gak tau tuh anak marah sama gue.
Konselor : Oh ya, kalo boleh tau kenapa ?
Subjek : Nah itu yang gak tau. Gue berusaha nyari jawabannya tapi gak ketemu. Minta tolong sama orang-orang juga, orangnya antara mau dan gak mau.
Konselor : Udah yakin kalo kamu sudah tepat meminta tolong pada orang tersebut ?
Subjek : Gue juga masih ragu sih, keliatannya orang yang gue minta tolongin ini, juga punya janji sama orang yang bermasalah sama gue. Disatu sisi ingin membantu gue, tapi disisi lain dia ngejaga rahasia yang berhasil dia dapat.
Konselor : Kenapa kamu yakin teman dia bisa menjaga rahasia sama kamu?
Subjek : bisa simpel aja sih, bisa keliatan kalo misalnya orang itu udah pernah cerita. Tapi orang yang gue mintain tolong ini,dia juga diem aja bilangnya belum tapi kayanya belum pernah cerita. Dan beberapa orang lain yang dimintain tolong ga mau ikut campur, meskipun gue tahu mereka(orang yang bermasalah sama gue).
Konselor : Kalo gue boleh tahu bisa berikan contohnya ga?
Subjek : Salah satu contohnya ya? Ya, simpel cih. Gue sama dia udah lama ga ngobrol, trus setiap kali gue berusaha ngobrol dia pasti jutek dan kabur.
Konselor : Kabur gimana maksudnya?
Subjek : ya gitu, dia langsung kabur malah kadang misalkan baru ketemu, dia udah langsung lari. Belum sempet nyapa belum apa-apa udah lari.
Konselor : Kalo boleh tahu kira-kira udah berapa lama masalahnya?
Subjek : Kira-kira mulai semester 4, tepatnya pertengahan semester 3 masalah itu muncul.
Konselor : Kira-kira awal masalahnya gimana?
Subjek : Ga jelas juga gimana masalah, dia tuh jadi aneh. Jadi dia tiba-tiba marah,tapi anehnya dia gue pikir karena bad mood aja ke semua orang tapi ternyata dia bad mood ke gue aja. Jadi gue ga tau bad moodnya kenapa, dan itu yang sampe sekarang gue cari tau.
Konselor : Apa kamu yakin dia bad mood sama kamu aja atau cuma perasaan kamu aja?
Subjek : Karena dari awal dia bad mood sama gue tadinya gue cuekin, jadi gue kira masalah itu sepele, tapi lama kelamaan kok bad moodnya dia makin bertambah, makin keliatan sebel makin keliatan benci ke gue.
Konselor : Oh jadi, e....dia itu bad mood karena tiba-tiba marah gak jelas semakin bertambah, makin keliatan sebel makin keliatan benci, gitu...?
Subjek : ya.....gitu
Konselor : Terus kira-kira ada ga faktor lingkungan yang membuat kamu tambah buruk atau malah sebaliknya lebih baik ?
Subjek : Kalo faktor lingkungan ya paling faktor sosial ya, kaya tadi saya bilang mereka temen-temen yang dimintai tolong kurang bisa membantu saya untuk mencari biang masalah kenapa bisa begitu.
Konselor : Tapi sekarang kan sudah berjalan lama ya...tu kira-kira ada ga sih misalkan udah membaiklah sedikit demi sedikit ?
Subjek : Kalo baik sih kayanya enggak, cuman paling dia itu udah kaya 100 persen cuek, meskipun mungkin gue enggak.
Konselor : Dia cuek begitu apa karena teman baik kamu banget, jadi saat punya masalah sama dia, sampe sekarang ?
Subjek : yaah...gue akuin dia temen baik gue, gue akuin daripada dia butuh gue, mendingan gue dibutuhkan oleh dia, dalam segala hal, bilang sulit untuk belajar.
Konselor : Terus apakah kamu yakin yang sudah kamu lakukan sekarang benar ?
Subjek : Gak yakin, karena saya butuh penjelasan dari si subjeknya ini untuk,apa...mengatakan atau seenggaknya memberi tanda gitu yang menandakan dia gak suka jadi gue bisa ngerubah itu.
Konselor : Kira-kira kalau kita membuat perbandingan 1 sampai 10, kira-kira masalah kamu ada di nilai berapa ?
Subjek : Tingkat keparahan, mungkin 9.
Konselor : Kalo misalkan 9 udah berat kan, kira-kira ada gak sih orang yang tau masalah ini ?
Subjek : Cukup banyak, kan tadi udah saya bilang, ada beberapa orang yang saya tolong, jadi otomatis orang itu udah tau dong masalah saya apa.
Konselor : Untuk lebih baik lagi kamu ngelakuin apa ?
Subjek : Sampe sekarang juga gua lagi nyari solusinya nih apa, soalnya nanya ke sana dia gak mau ikut campur, tanya ke orang lain mulutnya takut ember, jadi masih bingung solusi. Tapi untuk yang saya lakukan sekarang untuk memperbaiki keadaan mungkin cukup benar.
Konselor : Dengan keadaan kamu, kamu kecewa gak ?
Subjek : Yaa...jujur, jujur sejujurnya, kalo bohong itu dosa, saya kecewa, sama diri saya sendiri, kenapa dari setiap masalah yang saya hadapi Cuma bisa lari. Semua masalah yanng bisa diselesaikan Cuma lari, dan gua gak akan menyerah dengan masalah ini, dengan lari begitu aja.
Konselor : Berarti kamu dengan optimis menghadapinya ?
Subjek : Mungkin bisa dibilang cukup optimis. Tapi lama-lama udah mulai lelah, dicuekin, dijutekin udah kaya apaan tau, kalau diajak ngobrol gak mau liat ke arah gue.
Konselor : Ohh...begitu, kalau begitu boleh gak saya kasih saran, kalau menurut saya begini, kamu bilang kan tadi kamu kecewa sama diri kamu sendiri, karena kamu Cuma bisa lari dari masalah, menurut saya, lebih baik kamu mencoba untuk mencari cara gimana supaya masalah itu selesai, jangan untuk lari, dipending dulu, cari masalah yang menurut kamu lebih penting, gimana menurut anda ?
Subjek : Gimana yaa, kalo menurut saya, kalo yang penting udah pasti didaduhulukan, dan yaa memang benar kalau ada tugas kuliah saya mengerjakan, tapi pasti didalam tengah-tengah ngerjain tugas itu pasti ada bayangan tentang masalah gua sama dia.
Konselor : Terus sewaktu terbayang itu apa yang anda lakukan ?
Subjek : Paling Cuma melakukan represi.
Konselor : Represi gimana, apakah menekan ketika ini tiba-tiba muncul atau merepress untuk ke hal-hal yang lain ?
Subjek : Yaa menekan, supaya perasaan yang gak jelas ini hilang.
Konselor : Apa sih yang kamu inginkan sekarang, atas kejadian ini ?
Subjek : Yang saya inginkan saya sama dia kembali kaya dulu lagi. Meskipun kadang-kadang ngeselin, bukan dia nya yaa, tapi keadaan orang-orang sekitar.
Konselor : Andai kata dia menjalin kontak dengan kamu kembali, apakah kamu ingin menjalin kontak itu, sedangkan hati kamu seperti yang kamu bilang, kamu ingin merepress ?
Subjek : Tentu saja dia akan menerima dia apa adanya, karena saya ingin memperbaiki keadaan, kalau saya misalnya mensudahi, itu bisa saya lakukan dari sekarang. Tapi itu kan sama aja berlari.
Konselor : Kesan dan pesan kamu tentang masalah ini apa ?
Subjek : Gue gak bisa ngegambarin diri gue sendiri, gue ini lagi kenapa, yang jelas gue super pusing sama masalah ini, bingung juga, ngejelasinnya ribet, karena gue sendiri belum dapat bayangannya.
Konselor : Kira-kira ini hal yang negatif gak sih buat kamu ?
Subjek : Kalo soal negatif, setiap masalah pasti negatif yaa, dari segi mental udah pasti negatif banget yaa mau gimana lagi.
Konselor : Kamu menanggapi masalah ini dengan negatif thinking apa positif thinking ?
Subjek : Saya rasa keduanya, disatu sisi saya merasa gak puas dengan diri saya, disatu sisi saya kesal sama diri saya sendiri karena saya gak tau, apa yang membuat orang lain kesal sama saya, apa yang ngebikin saya sulit banget untuk menyelesaikan masalah, tapi disisi lain dari masalah ini, saya harus menyelesaikan masalah.
Konselor : Yang tadi saya tangkap, tadi kan kamu bilang merepress, apakah kamu benar merepress atau cuma mengalihkan yang tadi ?
Subjek : Kalo saya untuk saat ini, setiap masalah apapun yang saya hadapin, entah itu kecil entah itu besar, saya kurang bisa yang namanya displacement, mengalihkan, saya kurang bisa, karena rata-rata yang terjadi sama saya tuh cara temudahnya untuk mengalihkannya tuh destruktif, jadi biasa menghancurkan sesuatu, teriak, mukul-mukul kepala.
Konselor : Tapi gak jedotin kepala ketembok kan ?
Subjek : Kadang suka jedotin kepala.
Konselor : Jadi ketika ada masalah untuk mengalihkannya itu, kamu lebih ke arah destruktif dengan menyiksa diri kamu sendiri ?
Subjek : Iya begitu.
Konselor : Apakah itu kamu anggap sebagai punishment, apakah kamu merasa lebih baik, atau merasa lebih jatuh lagi ?
Subjek : Kalau menurut saya, itu bukan melakukan punishment itu hanya sekedar, diplacement doang, pelampiasan emosi utnuk mengurangi tingkat stress.
Konselor : Apakah itu alternatif yang terbaik untuk kamu ?
Subjek : Untuk saat ini saya asih gak bisa menemukan repressment yang lain lagi
Konselor : Jadi kamu kecewa atas sikap temen kamu yang seperti itu ?
Subjek : Iya...yaa...
Konselor : Oke mungkin ada lagi yang ingin sampaikan atau di curahkan lagi ?
Subjek : Apa yaa....tanpa pertanyaan menurut saya segitu aja.
Konselor : Oke kalau tidak ada lagi, mudah-mudahan aja apa yang kita lakukan sekarang bisa membuat kamu lebih baik dan bisa diterima dengan baik juga, dan saran-saran kita dapat dipakai juga tanpa adanya perlawanan, mudah-mudahan masalah kamu cepat selesai, sekian dari kami.
Langganan:
Postingan (Atom)